Kairo, MCNID.net--Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, melakukan kunjungan silaturahim ke kantor Mufti Republik Arab Mesir di Kairo pada Selasa (3/11/2026). Dalam kunjungan tersebut, Kiai Cholil diterima langsung oleh Mufti Mesir, Prof Nadhir Muhammad ‘Ayyad.

Pertemuan silaturahim ini menjadi momentum strategis untuk mempererat hubungan keulamaan antara Indonesia dan Mesir untuk merespons dinamika serta tantangan zaman modern yang semakin kompleks.

Diskusi hangat antara kedua tokoh tersebut berfokus pada kedudukan serta tanggung jawab besar ulama dalam menjawab berbagai persoalan umat Islam saat ini. Pembahasan mencakup spektrum yang luas, mulai dari perkembangan sosial, dinamika keagamaan, kemajuan ilmu pengetahuan, hingga arus perubahan global yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Dalam keterangannya seusai pertemuan, KH M Cholil Nafis menekankan bahwa di tengah era modern yang bergerak sangat cepat, ulama tidak boleh hanya memosisikan diri hanya sebagai penjaga tradisi keilmuan. Menurutnya, ulama memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar untuk tampil dan aktif di tengah masyarakat sebagai pemberi solusi dan pencerahan.

​"Ulama tidak cukup hanya menjadi penjaga tradisi keilmuan dan pewaris khazanah keislaman, tetapi juga harus hadir memberikan panduan, pencerahan, dan solusi terhadap persoalan kontemporer," tegas Kiai Cholil.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa barat ini menambahkan, ulama sekarang ini dituntut memiliki kemampuan adaptif agar mampu menghubungkan khazanah keilmuan Islam klasik dengan realitas kehidupan modern, tanpa sedikit pun kehilangan prinsip-prinsip dasar ajaran agama.

Selain membahas peran strategis ulama, pertemuan ini juga menghasilkan kesepakatan konkret untuk meningkatkan kerja sama kelembagaan antara MUI dan institusi keulamaan di Mesir.

Kedua belah pihak sepakat merancang sejumlah program kolaboratif, di antaranya pelatihan peningkatan kapasitas ulama, penyelenggaraan konferensi internasional bersama, serta penerjemahan dan pengembangan konsep Wasathiyatul Islam (Islam moderat).

Melalui kolaborasi ini, Kiai Cholil Nafis berharap agar gaung Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat dapat dikaji serta diimplementasikan secara lebih luas di kedua negara, bahkan di kancah global.

Kiai Cholil menambahkan bahwa kerja sama kelembagaan ini harus bertransformasi menjadi pertukaran pemikiran yang dinamis serta penguatan jaringan antar-ulama Indonesia dan Mesir.

Sebab, lanjutnya, Indonesia dan Mesir memiliki akar tradisi keilmuan Islam yang kuat serta pengalaman panjang dalam merawat kehidupan beragama yang moderat. Kiai Cholil yakin kolaborasi ini mampu memberikan kontribusi yang sangat bermakna bagi peradaban dunia Islam.

​"Tantangan zaman membutuhkan ulama yang tidak hanya mendalam ilmunya, tetapi juga luas pandangannya, bijaksana dalam menyikapi perbedaan, dan mampu menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam," kata Kiai Cholil Nafis.